Ayo Masuk UI

Cerita

09/01/2011, by admin

Kuliah Jangan Cuma Kuliah

Oleh Wahyu Awaludin

Wakil Ketua BEM FIB UI 2011

“IP (Indeks Prestasi) membawamu pada wawancara kerja, tetapi kepemimpinan lah yang membuatmu sukses”

-Anies Baswedan-

1

Dalam suatu acara TV yang bertema “Sang Pendobrak”, tim kreatif acara itu menghadirkan Anas Urbaningrum,  Anies Baswedan, dan Sandiaga S Uno. Pembawa acara itu tampak memilah-milah pertanyaan. Lalu akhirnya dia bertanya:

“Anda bertiga adalah para pendobrak. Banyak kelebihan yang ada pada diri Anda bertiga. Kira-kira, persamaan Anda bertiga ini apa”

“Saya kira kami bertiga berangkat dari hal yang sama..”, kata Anas menjawab. “Saya, Anies (Anies Baswedan), dan Sandi (Sandiaga S Uno) ini meniti dari bawah ya, nggak langsung ada seperti sekarang ini. Kami bertiga berusaha dari bawah, berusaha melakukan yang terbaik untuk menyelesaikan tugas-tugas kami, dan semacamnya”.

Pembaca acara itu mengangguk-angguk. Sandiaga S Uno tersenyum.

“Satu lagi..”, sambung Anies Baswedan. “saya pikir kami bertiga berangkat dari rahim yang sama..yakni rahim aktivis”

“Jadi..”, tutur pembawa acara. “kegiatan berorganisasi, menjadi aktivis, itu yang membentuk Anda bertiga?”

“Ya…”

2

Jikalau kita sudah menginjakkan kaki di kampus perjuangan ini, kita akan dihadapkan pada banyak pilihan. Salah satunya, kita akan memilih menjadi mahasiswa tipe apa: kura-kura (kuliah-rapat kuliah-rapat), kuda-kuda (kuliah-dagang kuliah-dagang), kunang-kunang (kuliah-nangkring kuliah-nangkring), atau kupu-kupu (kuliah-pulang kuliah-pulang).

Istilah di atas hanya sekadar anekdot, tetapi bukankah menarik? Hidup adalah pilihan, begitu kata pepatah Barat. Setiap pilihan mengandung resiko, kata Tri Mukhlison Anugerah, seorang teman. Tinggal ambil pilihan itu dan tanggung resikonya. Bagi saya, tidak masalah memilih yang mana saja, asal keputusan itu diambil setelah melalui proses perenungan dan pembacaan masa depan.

Sebuah studi menunjukkan bahwa kemampuan hard skill yang kita pelajari di kuliah ternyata menyumbang 20% kesuksesan. Menarik memang, tetapi ada yang lebih menarik lagi. Ternyata, 80% faktor kesuksesan lainnya ditopang oleh soft skill yang kita pelajari di kegiatan di luar kuliah. Jadi, selain kemampuan teknis sesuai bidang masing-masing, ada juga kemampuan lain khas soft skill yang harus kita kuasai: cara mengendalikan emosi, luwes bergaul, kualitas memimpin,  kemampuan menyelesaikan masalah, cara menyusun visi, dan lainnya. Dan menariknya, itu hanya bisa dipelajari lewat organisasi.

Bagi saya, berorganisasi berarti belajar. Belajar apa saja. Belajar cara menyusun visi, belajar cara memimpin, belajar cara bergaul, dan sejenisnya. Bagi saya, keyakinan akan bergunanya kemampuan soft skill inilah yang menjadi latar belakang saya untuk masuk ke dunia organisasi. Dan saya pikir, masuk organisasi adalah hal yang cukup bernilai untuk kita pertimbangkan. Setidaknya, saya melakukan itu demi masa depan saya nanti.

Di organisasi, kita dilatih untuk memimpin, berkontribusi untuk masyarakat, sekaligus mengembangkan diri. Jelas ada hambatan di sana, tetapi obat yang pahit itu diperlukan untuk menyembuhkan penyakit bukan? Apalagi, organisasi di UI ini tidak hanya ada satu atau dua organisasi. Kita bisa memilih apa yang kita mau. Ada organisasi tingkat jurusan, fakultas, hingga tingkat universitas. Ada organisasi yang bergerak di bidang eksekutif seperti BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa –semacam OSIS) fakultas dan universitas, UKM (Unit kegiatan Mahasiswa) seperti Sepak Bola, Basket, ataupun kricket. Selain itu, ada pula organisasi yang bergerak di bidang kerohanian seperti SALAM UI. Seluruh organisasi di UI memang dibentuk untuk menyalurkan minat dan bakat masing-masing sekaligus untuk meningkatkan kualitas soft skill mahasiswa. Dan saya memilih untuk tidak menyia-nyiakan fasilitas yang disediakan pak rektor kita tercinta..

Yah, setidaknya masuklah ke dalam organisasi yang kira-kira bisa mengantarkanmu meraih mimpi-mimpimu. Dan setidaknya, cobalah buat keputusan yang menarik agar alur hidupmu di dunia perkuliahan bisa mempesona. Akhirnya, seperti kata Anies Baswedan yang saya kutip di awal tulisan, “IP (Indeks Prestasi) membawamu pada wawancara kerja, tetapi kepemimpinan lah yang membuatmu sukses”, saya rasa organisasi bisa menggenapkannya.